Jalanjalanmurah.web.id — Fenomena destinasi wisata yang kewalahan akibat popularitas media sosial kembali terjadi di Eropa. Kali ini, Desa Funes di Italia utara mengambil langkah tegas dengan membatasi akses wisatawan ke salah satu spot paling terkenal demi melindungi kenyamanan warganya.
Kebijakan tersebut diterapkan oleh pemerintah lokal Funes, wilayah South Tyrol, menyusul lonjakan wisatawan yang dinilai sudah melewati batas daya dukung desa. Mengutip Time Out, otoritas setempat mulai memberlakukan zona khusus warga serta pembatasan kendaraan menuju titik foto ikonik yang selama ini ramai diburu turis.

Nama Funes melesat dalam beberapa tahun terakhir berkat media sosial. Ribuan unggahan menampilkan panorama khas desa ini: gereja kecil abad ke-15 yang berdiri di tengah padang rumput, dengan latar megah Pegunungan Odle di kawasan Dolomites.
Pemandangan tersebut menjadikan Funes tujuan favorit wisatawan internasional, khususnya wisatawan harian dan pencari konten visual. Namun, popularitas mendadak ini justru memicu masalah serius di tingkat lokal.
Menurut laporan The Times, peningkatan jumlah pengunjung menyebabkan kemacetan di jalan desa yang sempit, penumpukan sampah, serta pelanggaran ruang pribadi warga. Tak sedikit wisatawan yang masuk ke lahan pertanian dan halaman rumah penduduk demi mendapatkan sudut foto terbaik.
Jalan Ditutup, Wisatawan Wajib Jalan Kaki
Untuk meredam dampak overtourism, pemerintah desa Funes memutuskan melakukan pembatasan akses menjelang musim ramai wisata 2026. Mulai pertengahan Mei hingga November, jalur kendaraan menuju titik pandang populer akan ditutup untuk umum.
Hanya dua kelompok yang diizinkan melintas menggunakan kendaraan, yakni warga lokal serta wisatawan yang memiliki reservasi menginap di Funes. Sementara itu, wisatawan harian tetap diperbolehkan berkunjung, tetapi wajib berjalan kaki sekitar 15 menit melalui jalur pejalan kaki yang telah disediakan.

Langkah ini bertujuan mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus membatasi jumlah pengunjung di satu waktu.
Pembatasan ini sebenarnya bukan hal baru. Sekitar tiga tahun lalu, desa Funes pernah menerapkan kebijakan serupa. Namun, upaya tersebut dinilai gagal karena wisatawan masih bisa mengikuti kendaraan warga atau mencari jalur alternatif.
Belajar dari pengalaman tersebut, tahun ini pembatas dipasang di ruas jalan yang lebih lebar dan akan dijaga petugas, guna mencegah pelanggaran serta menghindari kemacetan. Sebelumnya, beberapa pemilik lahan di sekitar jalur Pegunungan Odle juga sempat mencoba sistem akses berbayar, mengikuti tren destinasi alam lain di Eropa.
Dolomites Tertekan Arus Wisata Massal
Kawasan Dolomites memang mengalami lonjakan kunjungan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Keindahan pegunungan, desa fotogenik, dan jalur pendakian kelas dunia menjadikannya magnet wisata global, terutama bagi generasi muda dan pengguna media sosial.
Namun, peningkatan kunjungan tersebut memunculkan dilema besar antara promosi pariwisata dan perlindungan lingkungan serta ruang hidup masyarakat lokal. Funes menjadi contoh nyata bagaimana desa kecil harus beradaptasi menghadapi tekanan wisata massal.
Kebijakan pembatasan ini sejalan dengan tren di berbagai destinasi Eropa yang mulai menerapkan kuota pengunjung, tarif masuk, hingga penutupan akses sementara demi menjaga keberlanjutan.
Bagi wisatawan, aturan baru ini menjadi pengingat bahwa menikmati destinasi indah juga berarti menghormati warga setempat. Sementara bagi Funes, langkah ini diharapkan mampu mengembalikan keseimbangan antara pariwisata, alam, dan kehidupan masyarakat desa.