Alasan Jepang Melarang Turis Asing Kunjungi Distrik Geisha

Jalanjalanmurah.web.id – Seperti diketahui, Jepang melarang keras turis asing untuk mengunjungi Distrik Geisha. Hal tersebut disebabkan wilayah ini sudah lama menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin melihat sekilas dan mengambil foto para Geisha.

Namun terkadang, para pelancong berperilaku nekat sampai mengusik keberadaan Geisha.

Sebagai informasi, sosok wanita Geisha identik dengan stelan kimono, make-up putih tebal serta jepit rambut tradisional dan berjalan dari kedai teh yang satu ke kedai teh lainnya.

Tetapi, Pemerintah Jepang mengeluarkan larangan pada wisatawan untuk mengunjungi jalan-jalan tertentu, yaitu Distrik Geisha yang populer di Kyoto. Larangan ini akan berlaku mulai tahun 2024 ini.

Lalu, mengapa Jepang melarang turis asing kunjungi Distrik Geisha?

Hal ini dikarenakan adanya laporan terkait banyaknya wisatawan yang melecehkan para perempuan tersebut. Yang mana salah satunya memotret para Geisha bak paparazzi tanpa persetujuan mereka.

“Kami memasang tanda pada bulan April yang memberitahukan wisatawan untuk menjauhi jalan-jalan pribadi milik Geisha,” ujar pejabat berwenang.

Aturan ini nantinya akan ditulis dalam bahasa Jepang dan Inggris, yang bertuliskan ini adalah jalan pribadi dan siapapun yang berjalan di jalan tersebut akan didenda 10 ribu yen atau USD70 (setara Rp1,1 juta).

Sebagai informasi, wisatawan sering memadati kawasan Gion yang sempit dan kuno, bahkan sering mengikuti pemandu yang mengajak berkeliling, bahkan kadang-kadang berhenti untuk berbicara panjang lebar terkait hal-hal yang menarik.

Gion sendiri merupakan destinasi populer, dengan distrik yang terdiri dari gang berkelok-kelok. Distrik ini terkenal dengan kuil, taman, dan kedai teh yang indah. Di sini juga tempat Geisha serta murid-murid Maiko memakai kimono dan hiasan rambut menampilkan tarian serta musik.

Para pengunjung sering membanjiri kawasan Gion dan berharap dapat melihat para perempuan dalam perjalanan ke kelas tari atau pesta makan malam yang mewah.

Author: pangeranbertopeng