Jalanjalanmurah.web.id — Perayaan Tahun Baru Imlek hampir selalu identik dengan kehadiran kue keranjang di meja keluarga. Kudapan tradisional ini bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol doa dan harapan baik bagi masyarakat Tionghoa di tahun yang baru.
Kue keranjang dipercaya melambangkan rezeki yang terus meningkat, kehidupan makmur, serta kebahagiaan yang berkelanjutan. Teksturnya yang lengket menjadi perlambang eratnya hubungan persaudaraan, sementara bentuk bulatnya menggambarkan persatuan keluarga.
Rasa manis pada kue ini juga dimaknai sebagai lambang sukacita. Tak jarang kue keranjang disusun bertingkat saat penyajian sebagai simbol kemakmuran yang terus naik.
Cara Menikmati Kue Keranjang
Kue keranjang sebenarnya bisa langsung disantap, namun ada beberapa cara penyajian yang membuat rasanya semakin nikmat. Salah satu pelaku usaha kue keranjang di Surabaya, Tjik Lidyana, membagikan beberapa cara populer menikmati kudapan ini.
Menurutnya, kue keranjang yang masih lembut biasanya disantap bersama kelapa parut, mirip seperti ongol-ongol. Ada juga yang menambahkan taburan kacang tumbuk untuk memperkaya rasa.
Jika ingin versi goreng, kue keranjang sebaiknya didinginkan terlebih dahulu. Setelah teksturnya mengeras, kue bisa dipotong lalu digoreng hingga bagian luarnya renyah dan bagian dalamnya tetap legit.
Filosofi dan Proses Pembuatan
Kue keranjang memiliki nilai filosofis yang kuat dalam tradisi Imlek. Selain sebagai simbol kebersamaan agar keluarga “selalu lengket dan dekat,” kue ini juga kerap digunakan untuk keperluan sembahyang dan dibagikan kepada kerabat.
Proses pembuatannya sendiri tidak singkat. Dalam satu kali produksi, bahan yang digunakan bisa mencapai 40 kilogram campuran tepung, gula, dan air. Waktu memasaknya pun memakan waktu hingga 14–15 jam menggunakan panci besar.
Soal daya tahan, kue keranjang tergolong awet. Di suhu ruang bisa bertahan 2–3 bulan, sementara penyimpanan di kulkas membuatnya lebih tahan lama.
Menjelang Imlek, permintaan kue keranjang biasanya melonjak tajam. Tjik mengaku pesanan mulai ramai sejak seminggu sebelum perayaan dan terus meningkat mendekati hari-H.
Dalam sehari, produksinya dapat mencapai 150–300 kotak dengan berbagai ukuran. Varian isi satu, dua, empat, hingga sembilan kue menjadi yang paling banyak dicari pelanggan.