Jalanjalanmurah.web.id — Di tengah deretan hotel, apartemen, dan bangunan modern di kawasan Glodok, Jakarta Barat, masih berdiri sebuah rumah tua yang menjadi saksi perjalanan sejarah komunitas Tionghoa di Batavia.
Bangunan bernama Candra Naya itu telah berusia lebih dari dua abad dan menjadi salah satu cagar budaya yang tetap bertahan di tengah pesatnya perkembangan ibu kota.
Berlokasi di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Candra Naya dahulu merupakan kediaman keluarga Khouw, salah satu keluarga Tionghoa paling berpengaruh pada masa Hindia Belanda. Keberadaannya menghadirkan nuansa berbeda di tengah kawasan Glodok yang kini dipenuhi bangunan modern.
Pemandu wisata sejarah Endang Teguh Pramono atau Pampam menjelaskan, rumah tersebut berkaitan erat dengan keluarga Khouw yang dikenal sebagai kalangan elite pada zamannya.
Menurutnya, masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh sejarah kawasan Pecinan dapat mengunjungi Candra Naya melalui program walking tour yang digelar di kawasan Glodok. Kegiatan tersebut tidak hanya mengajak peserta menelusuri bangunan bersejarah, tetapi juga mengenalkan berbagai sudut Pecinan yang masih menyimpan jejak masa lalu.
Pernah Dihuni Mayor China Terakhir Batavia

Candra Naya memiliki hubungan erat dengan sosok Khouw Kim An, tokoh penting yang dikenal sebagai Mayor China terakhir di Batavia.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, jabatan Mayor China diberikan kepada tokoh dari komunitas Tionghoa untuk menjadi penghubung antara pemerintah kolonial dan masyarakat Tionghoa. Sebelum menduduki posisi tersebut, Khouw Kim An lebih dahulu menjabat sebagai Letnan pada 1905, kemudian diangkat menjadi Kapitan pada 1908, hingga akhirnya dipercaya menjadi Mayor pada 1910.
Selain memiliki peran penting dalam pemerintahan saat itu, Khouw Kim An juga dikenal sebagai pengusaha sukses yang mengelola berbagai usaha, termasuk sektor perbankan dan perdagangan beras.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Candra Naya sempat mengalami penurunan dan kurang terawat. Kini, bangunan yang masih berdiri hanya sekitar sepertiga dari luas kompleks kediaman aslinya.
Dibangun Sejak 1807 dan Nyaris Dipindahkan
Sejarah Candra Naya bermula pada 1807 ketika Khouw Tian Sek membangun rumah tersebut untuk menyambut kelahiran putranya pada tahun berikutnya.

Nama Candra Naya diambil dari sebuah lukisan bertuliskan aksara Han yang memiliki makna “musim gugur di Tahun Kelinci”. Bangunan ini mempertahankan arsitektur tradisional Tionghoa, salah satunya melalui penggunaan struktur tou-kung, yaitu sistem penyangga kayu yang menghubungkan tiang dengan bagian atap.
Kompleks rumah juga dilengkapi halaman dan taman air yang menghadirkan suasana sejuk, meski berada di kawasan perkotaan yang padat.
Keberadaan Candra Naya sempat terancam ketika muncul rencana untuk memindahkannya ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namun, rencana tersebut menuai penolakan karena dinilai dapat menghilangkan nilai historis bangunan yang melekat dengan lokasi aslinya.
Berkat upaya pelestarian, Candra Naya tetap berdiri di tempat semula hingga sekarang. Bangunan ini menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang memperlihatkan kehidupan masyarakat elite Tionghoa di Batavia sekaligus menjadi destinasi wisata sejarah yang masih dapat dinikmati masyarakat di tengah kawasan Glodok yang terus berkembang.