Jalanjalanmurah.web.id — Turki mulai kehilangan citranya sebagai salah satu destinasi wisata yang relatif terjangkau bagi wisatawan asing. Lonjakan harga berbagai kebutuhan liburan membuat pelancong harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk menikmati destinasi populer seperti Istanbul, Cappadocia, hingga kawasan pesisir Mediterania.
Kenaikan biaya tersebut mulai dirasakan wisatawan yang sudah berkali-kali berlibur ke Turki. Salah satunya pasangan asal Inggris, Donna dan Dave Needham, yang telah mengunjungi pesisir Mediterania Turki sebanyak lima kali sejak 2021.
Keduanya kembali ke Turki pada musim panas 2026, tetapi menemukan harga sejumlah aktivitas wisata jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu contoh paling mencolok adalah tarif jet ski selama 15 menit. Wisatawan kini harus membayar sekitar 90 pound sterling atau sekitar Rp2,16 juta. Padahal, pada tahun sebelumnya aktivitas yang sama hanya dibanderol 20 pound sterling atau sekitar Rp480 ribu.
Kenaikan tersebut membuat biaya liburan keluarga Donna dan Dave membengkak. Bahkan, pasangan yang juga menjalankan agen perjalanan kecil itu mengaku tidak lagi mampu menginap di resor yang selama ini menjadi langganan mereka.
Donna pun mempertimbangkan untuk mencari destinasi lain pada tahun depan karena Turki dinilai tidak lagi semurah sebelumnya.
Nilai Tukar Lira Ikut Mendorong Kenaikan Biaya
Lonjakan harga pariwisata Turki tidak terlepas dari kondisi ekonomi negara tersebut. Salah satu faktor yang disorot adalah kebijakan pemerintah dalam mengelola nilai tukar mata uang lira.
Pemerintah Turki mempertahankan depresiasi lira agar berlangsung lebih lambat dibandingkan laju inflasi domestik. Kebijakan tersebut kemudian berdampak pada biaya yang harus ditanggung wisatawan asing.
Ketika nilai mata uang lokal tidak melemah secepat kenaikan harga di dalam negeri, barang dan jasa menjadi relatif lebih mahal bagi pelancong dari luar Turki.
Kondisi itu terasa semakin jelas di berbagai sektor pariwisata, mulai dari akomodasi hingga aktivitas rekreasi.
Perubahan harga tersebut juga mulai tercermin dalam angka kunjungan wisatawan. Data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki menunjukkan jumlah wisatawan asing turun 3,6 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Penurunan berlanjut pada Juni dengan angka 4 persen dan kembali tercatat sebesar 0,3 persen pada Juli. Wisatawan asal Inggris mengalami penurunan yang lebih tajam, yakni mencapai 11 persen pada periode terakhir yang tercatat.
Wisatawan Turun, Pendapatan Pariwisata Tetap Tinggi
Secara keseluruhan, jumlah wisatawan yang datang ke Turki sepanjang paruh pertama 2026 turun 2,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Walaupun volume kunjungan melemah, kondisi tersebut belum langsung membuat pendapatan sektor pariwisata Turki ikut turun.
Sepanjang semester I 2026, sektor pariwisata Turki justru menghasilkan pendapatan sekitar US$25,75 miliar atau setara dengan sekitar Rp455,5 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah wisatawan belum otomatis mengurangi pemasukan negara dari sektor pariwisata. Harga perjalanan yang semakin tinggi dapat membuat sebagian wisatawan membelanjakan lebih banyak uang selama berada di Turki.
Akan tetapi, jika biaya liburan terus meningkat dan semakin banyak wisatawan mengalihkan pilihan ke negara lain, kondisi tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi industri pariwisata Turki dalam jangka panjang.
Negara yang selama bertahun-tahun dikenal menawarkan kombinasi destinasi menarik dan harga relatif terjangkau kini harus menghadapi perubahan persepsi di kalangan wisatawan internasional.