Jalanjalanmurah.web.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga merusak situs pemakaman tradisional masyarakat setempat.
Api yang menjalar ke tebing di Dusun Salurea Rangri, Kelurahan Baruppu Utara, Kecamatan Baruppu, menyebabkan sejumlah peti jenazah di dalam liang kubur batu ikut terbakar. Peristiwa tersebut berlangsung sejak Jumat (23/10) hingga Sabtu (24/10).
Kobaran api dari kawasan hutan merembet ke area pemakaman yang berada di tebing, sehingga berdampak pada situs budaya yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Toraja.
Kepala Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara, Riantho Yusuf Sangkelo, mengatakan kebakaran diduga dipicu oleh tindakan seseorang yang membakar kawasan sekitar lokasi. Dugaan itu muncul berdasarkan informasi dari warga yang mengaku melihat aktivitas tersebut.
“Mungkin ada unsur kesengajaan atau karena iseng. Itu informasi dari masyarakat,” kata Riantho, Minggu (25/10).
Belasan hingga Puluhan Liang Terdampak
Riantho menjelaskan, area pemakaman yang terdampak tersebar di tiga titik berbeda. Di lokasi tersebut terdapat belasan hingga puluhan liang, yakni kuburan batu khas tradisi pemakaman masyarakat Toraja.
Sejumlah peti jenazah yang berada di dalam liang dilaporkan ikut hangus terbakar akibat rembetan api. Namun, petugas belum merinci jumlah pasti peti yang mengalami kerusakan maupun keseluruhan dampak kebakaran terhadap situs pemakaman tersebut.
”Itu kuburan namanya liang. Jadi ada belasan atau puluhan liang itu karena tiga titik yang berbeda tempatnya. Sempat ada itu (peti terbakar),” ujarnya.
Kerusakan ini menambah dampak kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut. Selain membakar area hutan, api juga menjangkau lokasi pemakaman tradisional yang memiliki nilai budaya bagi masyarakat setempat.
Dugaan penyebab kebakaran mengarah pada kemungkinan adanya aktivitas pembakaran yang dilakukan seseorang di sekitar lokasi. Berdasarkan keterangan yang diterima petugas, warga sempat berusaha mengejar orang yang dicurigai memicu kebakaran.
Meski demikian, identitas orang tersebut belum diketahui secara pasti. Dugaan keterlibatan seseorang juga belum dapat dipastikan karena penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
“Artinya mungkin iseng atau apa, tapi dikejar sama belum diketahui pasti sama masyarakat siapa,” kata Riantho.
Pihak berwenang masih menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti peristiwa tersebut. Karena itu, dugaan kesengajaan belum dapat dianggap sebagai kesimpulan akhir.
Akses Sulit Hambat Pemadaman Api
Upaya memadamkan kebakaran menghadapi kendala karena lokasi kejadian sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran. Kondisi tersebut membuat petugas harus menyesuaikan metode pemadaman dengan akses dan peralatan yang tersedia di lapangan.
Penanganan dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara, Manggala Agni, kelompok pecinta alam (KPA), Babinsa, serta Bhabinkamtibmas. Dalam proses tersebut, petugas pemadam kebakaran Toraja Utara turut menggunakan peralatan milik Manggala Agni, termasuk pompa air, untuk membantu mengendalikan kobaran api.
”Jadi kami hanya mem-backup teman-teman Manggala Agni. Peralatannya Manggala Agni yang kami gunakan di sana, pompanya kita pakai,” tutur Riantho.
Hingga Minggu (25/10), penyebab pasti kebakaran di kawasan Baruppu Utara masih diselidiki oleh kepolisian. Petugas juga belum menyampaikan perincian lengkap mengenai luas kawasan hutan yang terbakar serta tingkat kerusakan pada situs pemakaman batu.
“Penyebab pastinya sementara masih diselidiki oleh teman-teman dari kepolisian untuk mencari tahu kira-kira penyebabnya ini,” ujarnya.
Penyelidikan diharapkan dapat mengungkap sumber api sekaligus memastikan apakah kebakaran dipicu oleh kelalaian atau tindakan yang disengaja.
Sementara itu, dampak terhadap kawasan hutan dan pemakaman tradisional masih menunggu pendataan lebih lanjut.