Jalanjalanmurah.web.id — Ketegangan militer di kawasan Asia Tenggara mulai menunjukkan dampak nyata di luar medan perang. Salah satu sektor yang paling terpukul adalah pariwisata Kamboja, khususnya di sekitar Angkor Wat, destinasi ikonik yang biasanya menjadi magnet wisatawan dunia. Di saat musim liburan akhir tahun seharusnya mencapai puncak, kawasan tersebut justru diliputi suasana lengang.
Dampak Konflik Langsung ke Jantung Pariwisata Kamboja
Angkor Wat yang terletak di Kota Siem Reap hanya berjarak sekitar dua jam perjalanan dari perbatasan Thailand. Selama lebih dari dua pekan terakhir, wilayah perbatasan kedua negara itu dilanda bentrokan bersenjata yang menewaskan puluhan orang.
Meski pertempuran tidak terjadi di kawasan wisata, persepsi risiko membuat banyak wisatawan memilih membatalkan perjalanan.
Situasi ini menciptakan efek domino bagi perekonomian lokal. Hotel, pemandu wisata, pedagang suvenir, hingga pengemudi tuk-tuk kehilangan sumber penghasilan di tengah periode yang biasanya paling sibuk dalam setahun.
Pendapatan Pelaku Wisata Anjlok Hingga 80 Persen
Bun Ratana, pemandu wisata di Siem Reap, mengungkapkan bahwa jumlah tamu yang menggunakan jasanya menurun drastis sejak konflik pecah. Ia menyebut sebagian besar wisatawan merasa khawatir, meskipun kondisi di Siem Reap relatif aman.
“Banyak tur dibatalkan. Pendapatan saya turun hampir 80 persen,” ujar Ratana seperti dikutip AFP. Pada Desember 2025, penghasilannya hanya mencapai sekitar US$150 atau setara Rp2,3 juta, jauh dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sejak sengketa lama yang berakar dari era kolonial kembali memanas pada Mei 2025, Thailand dan Kamboja menutup jalur perbatasan darat. Kebijakan ini berdampak langsung pada arus wisata lintas negara, yang sebelumnya menjadi salah satu jalur favorit turis regional.
Minivan dari Bangkok menuju Angkor Wat yang biasanya beroperasi penuh kini terparkir tanpa penumpang. Agen perjalanan di kedua negara pun terpaksa menolak pemesanan karena tidak dapat memastikan kapan perjalanan lintas batas akan kembali dibuka.
Data Kunjungan Angkor Wat Terus Menurun
Penurunan jumlah wisatawan juga tercermin dalam data resmi. Angkor Enterprise mencatat penjualan tiket masuk ke kompleks Angkor Wat turun setidaknya 17 persen selama periode Juni hingga November 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan paling tajam terjadi setelah bentrokan besar selama lima hari pada Juli 2025 yang menewaskan puluhan orang. Sejak saat itu, tren kunjungan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan.
Selain konflik bersenjata, industri pariwisata Kamboja juga dibayangi isu keamanan lain. Maraknya pemberitaan mengenai jaringan penipuan daring internasional (cyber scam) yang beroperasi di Kamboja dan Myanmar turut merusak citra negara tersebut di mata wisatawan global.
Direktur konsultan pariwisata Pear Anderson, Hannah Pearson, menilai persepsi negatif tersebut kerap tidak mencerminkan kondisi di lapangan. “Destinasi wisata utama sebenarnya aman, tetapi tajuk berita sudah terlanjur membentuk ketakutan,” ujarnya.
Wisatawan Tetap Datang, Meski Jumlah Terbatas
Di tengah kekhawatiran global, masih ada wisatawan yang memilih datang. Dorothy, turis asal Amerika Serikat, mengaku merasa aman setelah memahami situasi secara langsung dan mengatur perjalanan secara mandiri.
Namun, kehadiran wisatawan seperti Dorothy belum cukup untuk menggerakkan roda ekonomi seperti sebelumnya.
Pemerintah daerah Siem Reap mengakui bahwa reputasi Kamboja tengah berada dalam tekanan berat. Meski demikian, optimisme tetap ada. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Siem Reap, Thim Sereyvudh, meyakini bahwa kejayaan Angkor Wat akan kembali begitu konflik mereda.
“Semakin cepat perang berakhir, semakin cepat wisatawan kembali,” ujarnya.