Tertarik Mendaki Gunung Rinjani? Ini Persiapan Wajib yang Harus Dilakukan

Jalanjalanmurah.web.id — Walaupun belakangan ini Gunung Rinjani sedang jadi sorotan karena beberapa insiden, namun pesona dan tantangannya tetap menjadi magnet bagi para petualang.

Bagi kamu yang tertarik mendaki gunung ini, penting untuk benar-benar mempersiapkan diri secara matang.

Melansir dari CNN Indonesia, Suryo Utomo seorang jurnalis CNN Indonesia yang baru saja mendaki Rinjani pada awal Juni lalu, membagikan pengalamannya dan juga mewanti-wanti calon pendaki supaya tidak meremehkan tantangan yang ada.

Menurutnya, cuaca di Rinjani sangat ekstrem dan cepat berubah, sehingga bagi pendaki pemula yang tidak terbiasa, hal ini bisa menjadi kejutan yang berbahaya.

“Cuaca di sana bisa sangat terik, lalu tiba-tiba kabut turun, bahkan hujan. Buat pendaki pemula atau yang tidak siap, itu bisa bikin panik,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi pendakian keempat Suryo di Rinjani. Ia pun menjelaskan beberapa persiapan penting yang sebaiknya dilakukan bagi kamu yang ingin menaklukkan salah satu gunung paling populer di Indonesia ini.

Persiapan Fisik

Suryo menyarankan agar calon pendaki memulai persiapan fisik minimal enam bulan sebelum hari-H. Rinjani bukanlah gunung yang bisa ditaklukkan tanpa stamina prima. Apalagi jika mengingat jalurnya panjang dengan kontur menanjak yang cukup berat.

Olahraga rutin seperti jogging, naik turun tangga, atau hiking ringan bisa membantu melatih detak jantung, kekuatan otot, serta membiasakan tubuh dengan aktivitas berat.

Peralatan yang Tepat

Banyak pendaki yang masih kurang memperhatikan kelengkapan peralatan, atau bahkan hanya menggunakan pakaian dan alas kaki yang tidak sesuai. Suryo mencontohkan kasus turis Brasil yang viral baru-baru ini, di mana pendaki tersebut mengenakan celana jeans dan sepatu kets—dua hal yang sangat tidak disarankan.

“Jeans itu susah kering kalau basah. Sepatu kets juga licin di medan berbatu. Saya pernah lihat ada yang naik pakai sepatu Vans, untung saja fisik mereka kuat. Tapi untuk kita, pendaki lokal, penting pakai sepatu khusus hiking dan celana outdoor,” jelasnya.

Sebaiknya, pakaian yang dipakai terdiri dari beberapa lapisan, base layer, second layer, fleece, dan wind breaker. Kemudian gunakan juga jaket hangat, pelindung kepala seperti kupluk atau buff, serta head lamp untuk perjalanan malam ke puncak juga wajib dibawa.

Makanan dan Minuman

Biasanya, pendaki yang memakai jasa trekking organizer disediakan makanan sebelum summit attack. Akan tetapi, jika mendaki mandiri, sebaiknya tetap mengisi perut dengan makanan bergizi dan membawa cukup air.

“Udara makin tinggi makin kering. Harus minum cukup supaya tidak dehidrasi. Minimal bawa 1 sampai 1,5 liter air saat menuju puncak,” ungkapnya.

Kesiapan Mental

Bukan hanya fisik dan peralatan, mental juga berperan besar. Di sini, pendaki harus sadar bahwa naik gunung penuh risiko. Keputusan mendaki harus disertai kesiapan menghadapi berbagai situasi, termasuk cuaca buruk atau kondisi medan yang ekstrem.

“Kalau ragu, mending turun. Di gunung itu enggak ada tempat buat keraguan. Lihat kiri-kanan jurang terus panik, itu bisa membahayakan,” kata Suryo.

Tak lupa, dia juga mengingatkan, pendaki mandiri harus lebih waspada. Jangan sampai teman satu perjalanan hilang dari pandangan, karena di medan seperti Rinjani, kehilangan arah bisa berarti tersesat sejauh ratusan meter.

Selain itu, ia menyarankan supaya penyedia jasa trekking membatasi jumlah peserta agar rasio pemandu tetap ideal. Contohnya saja pengalamannya mendaki Gunung Kinabalu di Malaysia, di mana setiap empat pendaki didampingi satu pemandu.

Gunung Rinjani sendiri memang indah dan menantang, namun jangan biarkan keindahannya menipu. Persiapan fisik, perlengkapan yang tepat, logistik yang cukup, dan kesiapan mental adalah kunci keselamatan dan kenikmatan selama perjalanan. Jangan pernah meremehkan gunung.

Author: pangeranbertopeng